LOADING0
Sukarni Supdayat, Single Parent Yang Tangguh
Sukarni Supdayat, Single Parent Yang Tangguh
April 9, 2013
1639 Views

INSPIRING PROFILE 

Menjadi orang tua yang mampu mengatasi berbagai persoalan dalam kehidupan berkeluarga bukanlah hal yang mudah. Terlebih lagi jika harus dihadapi dan dijalani seorang diri tanpa pendamping. Namun itulah yang dialami oleh sosok wanita yang lahir di Malang pada tanggal 26 Januari 1963.

Dengan penuh kesabaran sudah enam tahun Ibu Sukarni menjadi orang tua tunggal bagi lima orang anaknya. Ibu Sukarni adalah isteri dari seorang karyawan PT Angkasa Pura II (Persero) yang telah di panggil menghadap Sang Pencipta pada tahun 2006 akibat serangan penyakit Jantung. Sejak saat itu dia mengupayakan segala sesuatunya seorang diri, agar kelima anaknya dapat tetap  hidup layak seperti anak-anak lain.

Pada awalnya ditinggal seorang kepala keluarga merupakan pukulan berat baginya. Terlebih bagi usia perkawinannya saat itu relatif masih muda. Seolah tak tahu harus mengadu kepada siapa dan tak tahu pula bagaimana harus menapaki hari esok bersama lima buah hatinya, dia seperti orang yang kehilangan pegangan, shock dan begitu terpuruk.

Betapa tidak, sang suami yang hanya staf biasa dengan masa kerja yang belum  begitu lama tentulah tidak dapat terlalu banyak meninggalkan bekal untuknya. Uang pensiun pertama yang ia terima pada tahun 2007 sebesar Rp 277.700,- per bulan  dan uang lain-lainnya yang di terima dari perusahaan sebagai penghargaan masa kerja. Saat itu anak pertamanya telah duduk di bangku SMA dan anak keduanya dibangku SMP, sedangkan lainnya masih ditingkat Sekolah Dasar. Dari semua yang diterimanya, secara jujur ia mengatakan jauh dari mencukupi, tetapi sebagai hambaNya yang beriman dia harus tetap mensyukurinya. Insya Allah sengan rasa syukur atas karuniaNya ini akan menambah rejekinya dimasa mendatang.

Hari demi hari dilaluinya dengan penuh kesabaran. Baginya hidup susah bukanlah hal yang baru. Justru bagian yang terberat adalah menanamkan pengertian kepada anak-anaknya agar tetap menerima keadaan ini dengan tetap bertawakal kepada Allah SWT. Kasih sayang yang ia curahkan akhirnya menunjukan hasil. Perlahan namun pasti, anak-anaknya mulai terbiasa dengan kondisi yang serba kekurangan. Mereka tidak lagi banyak menuntut sang ibu untuk memenuhi keinginan ini dan itu. Meski terkadang ada juga hal-hal yang membuatnya sedih namun semua dihadapi dengan penuh kesabaran.

Sebagai makhluk sosial tentunya tak luput dari kehidupan bermasyarakat. Pandangan masyarakat yang kurang tepat tentang kehidupan seorang janda seringkali membuatnya gelisah. Terkadang timbul keinginan untuk mencari pengganti ayah bagi lima buah hatinya. Namun niat itu selalu urung manakala ia sering mendengar perlakuan ayah tiri yang kejam terhadap anak-anaknya. Dia tak ingin anak-anaknya menjadi korban ayah tiri.

Energi yang dimiliki sebagai seorang single parent, ia manfaatkan untuk sepenuhnya mencurahkan kasih sayang kepada anak-anaknya. Sedangkan untuk dapat terus bertahan hidup, ia tak mengandalkan sepenuhnya uang pensiun yang diterimanya. Ia mencoba untuk bekerja disebuah klinik swasta di kawasan Kampung Melayu Tangerang. Selama lebih dari empat tahun pekerjaan ini ia geluti dengan pennuh suka dan duka.

Keinginan untuk selalu memberikan yang terbaik bagi putra-putrinya, mendorongnya untuk selalu mencari peluan usaha. Hingga suatu kesempatan ia berjumpa dengan kawan bermain waktu kecil yang kini menjadi penngusaha rumah makan ternama di Kecamatan Neglasari. Dari pertemuan itulah kemudian ia diajak bekerjasama dengan sistem bagi hasil. Lahan kosong miliknya yang berada disamping rimah kemudian disulap menjadi rumah makan dengan nama “Warung Kecil”. Meski usaha ini belum menunjukan hasil yang signufukan, ia berharap Allah akan menurunkan rejekinya lebih banyak lagi lewat usaha warung kecilnya.

Usaha nan kerja keras diiringi doa yang tiada henti diyakininya akan membuahkan hasil. Di setiap kesulitan akan ada kemudahan, itulah firman Allah SWT yang menjadi keyakinannya. Walau merasa dirinya belum mencapai kesuksesan, namun kini ia merasa usaha dan kesabarannya telah membuahkan hasilnya.

Sesekali ia merenung dan memikirkan bagaimana caranya ia dapat berbagi pengalaman dengan para ibu yang menjadi single parent. Ia mencoba aktif diberbagai kegiatan kewanitaan dilingkungannya. Ia memiliki keinginan yang kuat agar setiap wanita yang menjadi ibu rumah tangga selalu siap dan mampu menghadapi dan menjalani kenyataan jika harus menjadi single parent.

Di akhir perbincangan Ibu Sukarni memiliki prinsip hidup “Yakinlah bahwa jika kita dekat kepada Allah, maka pertolongan Allah akan selalu di dekat kita”. dan berpesan kepada semua rekan Pensiunan “Kendalikan emosi agar kita tetap sehat dan terhindar dari penyakit”. (FI)

TOP