LOADING0
Kisah Paimin Sang Pekatik
Kisah Paimin Sang Pekatik
July 2, 2013
1639 Views

Alkisah selepas makan siang sambil melepas penat, Pangeran Pakubuono VI duduk-duduk di pendopo keraton dengan patih Danurejo dari kerajaan Surakarta Hadiningrat sambil bincang-bincang tentang takdir dan nasib. Perbincangan ini patut kita simak sebagai bahan renungan.

Raja: Apakah takdir dan nasib di tangan Tuhan atau manusia ?

Patih: Sinuwun, takdir ada di tangan Tuhan, tetapi nasib ada di tangan manusia.

Raja: Menurut saya, takdir dan nasib ada di tangan manusia. Sebagai contoh, lihat saja Paimin si pekatik (tukang rumput untuk makanan kuda). Apakah menurut Patih, takdirnya adalah sebagai pekatik?

Patih: Benar sekali Sinuwun. Takdirnya yang telah ditentukan Tuhan adalah sebagai pekatik.

Raja: Ya, tetapi saya sebagai raja, sekarang juga dapat mengangkatnya menjadi bupati. Jadi takdirnya ada di tangan saya, bukan di tangan Tuhan. Saya kan manusia ?

Patih : Betul Sinuwun. Tetapi  menurut  hemat saya, itu menyalahi takdir yang  telah ditentukan Tuhan karena tidak berdasarkan pertimbangan yang matang tentang kapabilitasnya, leadershipnya, pengetahuan tentang kepamongprajaan dan faktor-fakto lainnya.

Raja: Kalau begitu, bagaimana cara membuktikan pendapat Patih bahwa takdir itu benar2 ada di tangan Tuhan, dan nasib ada di tangan manusia?

Patih: Mudah saja. Berikan dia alternatif, dan mana yang dipilihnya adalah sesuai dengan takdirnya.

Raja: Baiklah, saya akan coba.

KESEMPATAN PERTAMA.

Kemudian Sinuwun memanggil Paimin untuk menghadap. Dengan segala hormat Paimin menyembah sang raja.

Raja: Min, nanti sore kalau kamu pulang, bawa beberapa buah semangka kiriman dari Bupati Madiun, untuk anak2 di rumah.

Paimin: Matur sembah nuwun Gusti Sinuwun.

Sore harinya, ternyata telah disiapkan satu pikul buah semangka untuk Paimin. Ditengah jalan sewaktu mengaso, kawannya menayakan perihal semangka yang bagus-bagus itu, dan dijelaskan bahwa semangka itu adalah pemberian Sinuwun. Timbullah minat dari kawannya itu untuk membelinya dengan harga 5 sen yang waktu itu nilai uang masih sangat berharga, tetapi ditolak oleh Paimin.

Kawan: Min, dengan 5 sen kamu kan dapat 5 pikul. Untuk anak-anak kan cukup beli beberapa buah dan sisanya bisa buat beli baju buat isteri dan anak-anak.

Paimin: Kenapa kamu mau bayar begitu mahal?

Kawan: Saya perlu sawab/berkah dari Sinuwun.

Sawab? pikir Paimin. Saya setiap hari ketemu Siniwun in person. Maka dijualnya semangka itu kepada kawannya. Paimin ketiban rezeli. Nasibnya lagi baik. Tanpa diketahuinya, Paimin sedang di-test oleh Sinuwun yang telah mengisi beberapa semangka dengan kepingan-kepingan ringgit emas. Kesempatan Paimin untuk mendapat rezeki yang lebih besar telah lolos dari tangannya dan hanya mendapat 5 sen saja!

Beberapa hari kemudian :

Patih: Sinuwun, Paimin telah melewatkan kesempatan untuk mendapat rezeki yang besar. Seandainya dia tidak melepaskannya, dia tidak perlu tetap menjadi pekatik.

Raja: Ya, tetapi saya belum yakin. Akan saya coba lagi.

KESEMPATAN KEDUA.

Test kedua adalah tugas kepada Paimin untuk membuatkan walesan/alat pancing dari bambu petung yang ada di halaman belakang keraton dengan upah 10 sen. Sewaktu tetangganya menawarkan diri untuk membuat walesan yang diperintahkan Sinuwun, Paimin menyetujuinya.

Paimin: Apa 1 sen cukup untuk beli bahan-bahannya ?

Tetangga: Tidak usah, karena saya mau berbakti kepada junjunganku. Semoga saya dapat sawabnya.

Bambu petung tersebut diserahkan kepada tetangganya untuk membuat walesan. Sekali lagi Paimin kehilangan kesempatan untuk memperoleh belasan ringgit-ringgit emas yang telah dimasukkan di dalam batang bambu tersebut oleh Sinuwun.

Dialog lebih lanjut antara Sang Raja dengan Patihnya :

Patih: Sinuwun, Paimin telah dua kali gagal dalam test. Ini membuktikan bahwa tadirnya sebagai pekatik telah ditentukan oleh Tuhan.

Raja: Memang betul. Saya belum benar2 yakin dan saya akan test untuk ketiga kalinya.

KESEMPATAN KETIGA.

Paimin dipanggil menghadap.

Raja: Paimin, saya utus kamu ke Bupati Madiun untuk menyampaikan surat terima kasih telah mengirim semangka satu grobak. Untuk ongkos jalan saya berikan setalen (25 sen).

Sore harinya Paimin membawa pulang surat dari Sinuwun dan diletakkannya di atas bupet di ruang tamu.

Joko Sontoloyo, tetangganya yang masih membujang, kebetulan datang bertamu dan menanyakan ’beslit’ apa itu dari Siniuwun?

Paimin: Saya diutus untuk menyampaikan surat kepada Bupati Madiun.

Dengan penuh semangat, Joko Sontoloyo menawarkan diri untuk mengantarkannya.

Paimin: Boleh, apa segobang (dua setengah sen) cukup buat ongkos jalan?

Joko: Biarpun harus jalan kaki, akan saya lakoni karena saya mau berbakti kepada junjunganku. Semoga saya dapat sawabnya.

Sewaktu Joko Sontoloyo menyampaikan surat Sinuwun kepada Bupati Madiun, dia terheran-heran mendapat VIP treatment, dan pada malam harinya setelah makan malam, Bupati memperkenalkan 5 putrinya yang cantik-cantik dan mempersilahkan Joko Sontoloyo untuk memilih gadis mana yang ingin disuntingnya.

Dengan rendah hati Joko menolak, tetapi Bupati memaksanya karena ini adalah dawuh Sinuwun yang tidak bisa ditolak, begitu juga dengan pengangkatannya menjadi Lurah Karanganyar keesokan harinya.

Sebenarnya, isi surat dari Sinuwun kurang lebih berbunyi: “Si pembawa surat ini agar dipungut mantu dan diangkat menjadi Lurah”.

Untuk ketiga kalinya Paimin luput dari kesempatan emas.

Dialog antar Sang Raja dengan Patihnya beberapa hari kemudian:

Patih: Sinuwun, untuk ketiga kalinya Paimin gagal test, karena takdirnya adalah sebagai pekatik walaupun nasibnya agak baikan sedikit.

Raja: Betul sekali. Saya sekarang yakin bahwa takdir ada di tangan Tuhan, dan nasib ada di tangan nanusia.

BAHAN RENUNGAN :

Bila kita renungkan sejenak, hikmah yang dapat kita petik dari cerita diatas adalah:

Dalam hidup kita, kita sering kali dihadapkan pada pilihan2 yang tidak kita ketahui apa akibat dari pilihan kita itu. Keputusan tentang pilihan mana yang kita ambil, dapat berupa hasil pertimbangan kita secara rasional, maupun keputusan yang ”terpaksa” kita ambil karena keadaan.

Tidak jarang kita sesali keputusan yang telah kita ambil itu, tetapi pada hakekatnya keputusan itu adalah sesuai dengan jalan hidup kita atau takdir kita yang telah digariskan oleh Yang Maha Kuasa.

Kita tidak mengetahui apa yang Tuhan telah siapkan untuk kita di kemudian hari karena God works in mysterious ways.

Oleh karena itu, syukurilah (dan nikmatilah) apa yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Semoga Tuhan YME senantiasa meridhoi kita semua. Amin.

Diceritakan Kembali Oleh: W. Haryono

TOP