LOADING0
Optimis & Bersyukur, Kunci Sukses Usaha H. Hasanuddin Ilyas
Optimis & Bersyukur, Kunci Sukses Usaha H. Hasanuddin Ilyas
April 4, 2013
1639 Views

INSPIRING PROFILE

Memasuki masa pensiun sebenarnya tak perlu cemas, jika kita dapat menerima kenyataan bahwa semua pegawai akan menjalaninya. Yang terpenting adalah bagaimana kita mempersiapkan diri agar dapat menjalani masa pensiun dengan penuh suka cita. Salah satu persiapan yang harus dilakukan adalah persiapan finansial atau keuangan.

Tak dapat dipungkiri bahwa di perusahaan manapun, manfaat pensiun yang diberikan pasti jauh lebih kecil dari penghasilan yang diterima ketika masih aktif. Pada awal pensiun mmmungkin tak terlalu terasa, karena biasanya masih ada uang ini dan itu yang cukup besar yang dapat dipakai untuk menutupi kekurangan tersebut. Tetapi setelah satu atau dua tahun barulah terasa untuk lebih menghemat dan memangkas berbagai kebutuhan seiring dengan  berkurangnya kemampuan.

Hal tersebut sebenarnya tak perlu terjadi, jika kita telah mempersiapkan segala sesuatunya dikala masih aktif, dimana kemampuan secara finansial kita masih mumpuni. Perlu adanya persiapan berupa kegiatan yang dapat menambah penghasilan. Kapankah persiapan itu dapat dilakukan? Menunggu datangnya masa persiapan pensiun atau MPP? Meski belum terlambat, namun kurang maksimal. Persiapan hendaknya dilakukan jauh sebelum memasuki masa pensiun, sehingga bila usaha yang dirintis belum berhasil, masih ada sumber pendapatan lain yang dapat diandalkan. Lantas bagaimanakah sebaiknya kita merintis usaha sebagai persiapan masa pensiun nanti. Baiknya kita ikuti pengalaman Bapak H. Hasanuddin Ilyas dalam Inspiring Profile berikut ini.

Tokoh inspiring kita kali  ini adalah seorang pensiunan yang giat merintis usahanya dari nol dimulai lebih dari 25 tahun yang lalu semasa masih aktif menjadi pegawai PT Angkasa Pura II (Persero). Bila dilihat sekilas, tidak menyangka bahwa Bpk. H. Hasanuddin Ilyas sudah pensiun dan memiliki empat orang cucu dari dua anaknya, karena penampilan yang tidak banyak berubah dengan saat sebelum pensiun.

Beliau merintis usahanya, yang menurut penilaian berbagai pihak dinilai sukses tersebut, diawali dari jasa catering yang ditekuni bersama istrinya ibu Fatimah sejak akhir tahun 1986. Dengan tidak ada rasa segan Bpk. H. Hasanuddin Ilyas membawa kue-kue kecil hasil buatan sang istri ke kantor. Dalam berjualan kue kecil beliau tetap berpegang pada prinsipnya, walaupun sambil berjualan janganlah sampai mengganggu atau mengurangi konsentrasi atas pekerjaan utama sebagai pegawai, maka dilakukan dengan cara penjualan self service. Beliau selalu menjaga kekompakan kerja dengan istri yang dianggap sebagai mitra sejajar karena hal ini merupakan kunci pokok dalam menjalani semua usaha yang dirintisnya.

Dari usaha berjualan kue kecil yang omzetnya semakin bertambah besar, mulai ada pelanggan yang memesan catering kepadanya. Salah satu yang menjadi titik tolak keberhasilan usaha catering tersebut dimulai pada akhir tahun 1987 ketika PT AP II menunjuk untuk menyediakan catering bagi tim marcing band PT AP II yang sedang mempersiapkan diri mengikuti lomba marcing band tingkat nasional. Sejak itulah usaha catering yang diberi nama “Arini Catering” mulai berjalan pesat dengan menerima order catering meliputi kontrak penyediaan catering untuk Diklat Departement Perhubungan Pusdiklat Perhubungngan Udara Curug, yang berjalan dari tahun 1990 sampai dengan 1998 dan kontrak penyediaan catering untuk Inhouse Training STPI Curug dari tahun 1998 sampai dengan 2004, serta permintaan atau order dari berbagai pihak termasuk berbagai diklat AP II dan MM-ITB serta MM-UGM.

Dari hasil jerih payah usaha catering yang diawali sejak tahun 1986 terkumpul tabungan memadai, sehingga pada akhir tahun 2005 dapat membeli sebidang tanah yang terletak di Jalan Suryadharma, merupakan jalan protokol menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta, dengan keinginan menambah jenis usaha yang sudah berjalan kemudian dibangun rumah kos. Tahap awal dapat membangun tempat kos yang diberi nama “ARINI” dengan kapasitas 10 kamar yang disewakan kepada pekerja di Bandara Soekarno-Hatta dan sekitarnya.

Pada bulan Juni 2008 Bpk H. Hasanuddin Ilyas pensiun dari PT AP II. Bermodalkan uang THT yang diterima dari PT AP II ditambah manfaat pensiun sekaligus sebesar 20% yang didapat dari DAPENDA, beliau melanjutkan pembangunan tahap kedua  rumah kos yang sudah siap sebelumnya. Program  berikutnya pada tahun 2010 dengan hasil dari penerima sewa kos, melakukan pembangunan tahap ketiga menambah 8 kamar lagi, sehingga sampai saat ini kapasitas kamar rumah kos yang ada total sebanyak 28 kamar. Masing-masing kamar dilengkapi dengan tempat tidur, lemari pakaian, kamar mandi di dalam kamar, jaringan internet wifi, serta terdapat kamar kos yang dilengkapi dengan penyejuk udara (AC).

Sepadan dengan fasilitas yang sangat memadai seperti tersebut di atas, harga sewa per kamar kos adalah Rp 700.000,- (non AC) sampai dengan Rp 1.200.000,- (AC) per bulan dan terdapat 1 kamar katagori spesial dengan tarif khusus sebesar Rp 2.500.000,- per bulan. Usaha kos-kosan tersebut tingkat hunian rata-rata mencapai 98% setiap bulannya, sehingga menghasilkan omzet mencapai  ± Rp 32.000.000,- per bulan. Atas pendapatan yang dihasilkan akan dikurangi dengan beban operasional per bulannya mencapai sebesar ± Rp 6.000.000,- dan kepada kami yang saat itu melakukan kunjungan ke kediaman beliau, mengungkapkan rata-rata hasil bersih perbulannya dapat mencapai ± Rp 26.000.000,-. Untuk menjaga investasinya, beliau telah mengasuransikan rumah kosnya, sehingga bila terjadi sesuatu hal atas rumah kos tersebut, tertimpa pesawat jatuh maupun bencana lainnya, sudah dicover dengan asuransi.

Selain rumah kos di jalan Suryadarma, Bpk. H. Hasanuddin Ilyas  sebelumnya  telah menekuni  bisnis rumah kontrakan. Saat ini terdapat rumah kontrakan di beberapa tempat diantaranya berada di belakang Perumahan Bandara Mas sebanyak 8 pintu, di daerah Kalideres ada 5 pintu, di daerah Jatinegara sebanyak 3 pintu serta rumah di daerah Sentul yang juga dikontrakkan.

Saat silaturahim kami dengan beliau, diungkapkan bahwa: bicara tentang suatu usaha tentu tidak lepas dari kendala. Demikian halnya yang dialami dalam mengelola usaha rumah kosan. Tak jarang atau seringkali lembaga sosial berkunjung ke rumah kosnya untuk meminta sumbangan. Menyikapi hal demikian, beliau berusaha untuk selektif dalam menerima dan membantu kegiatan sosial yang memang benar-benar sesuai peruntukannya.

Strategi mengelola usaha rumah kos, langkah utama beliau selalu mencoba berkomunikasi dan merangkul setiap elemen yang bersinggungan dengan usahanya, diantaranya senantiasa berpartisipasi terhadap kegiatan warga sekitar yang memerlukan bantuan baik segi finansial, pemikiran maupun tenaga secara langsung. Untuk keperluan operasional diperlukan tenaga kerja, maka beliau juga mempekerjakan beberapa warga sekitar untuk membantu mengelola usaha rumah kos seperti untuk tenaga pengamanan dan tenaga kebersihan.

Selain kewajiban sosial terhadap kegiatan warga sekitar, yang tidak kalah penting beliau juga selalu berusaha untuk taat atas kewajibannya terhadap negara. Untuk yang satu ini  terbukti dengan ketaatannya membayar pajak atas pendapatan usahanya tersebut secara rutin  sesuai dengan ketentuan aturan perpajakan dalam hal ini pajak daerah, bahwa untuk usaha rumah kos  yang jumlahnya lebih dari 10 pintu dikenakan kewajiban pajak.

Di samping kegiatan berwirausaha sebagaimana tersebut di atas, Bpk. H. Hasanuddin Ilyas aktif dalam organisasi Persatuan Pensiun Angkasa Pura II (PPAP II). Cita-citanya berkeinginan untuk meningkatkan kesejahteraan para pensiunan melalui PPAP II,  dan sebagai langkah nyata adalah berdirinya Koperasi Pensiunan Angkasa Pura II (KOPPENDA) yang merupakan upaya  beliau dengan rekan-rekan pensiunan lainnya. Dengan berdirinya KOPPENDA dapat menjadi wadah pensiunan untuk berusaha. Saat ini KOPPENDA dengan melalui tender telah mendapatkan pekerjaan pemeliharaan trolley di terminal I Bandara Soekarno-Hatta serta telah  mendapatkan ijin prinsip dari PT AP II untuk menempati 1 lot counter usaha di Terminal III Bandara Soekarno-Hatta.

Sebelum silaturahim kami selesai, beliau memberikan beberapa pesan kepada kami dan tentunya ditujukan kepada rekan-rekan sesama pensiunan, yaitu:

  1. Pahamilah arti kesehatan, karena tidak dapat dipungkiri bahwa usia pensiun adalah usia rawan terhadap segala macam penyakit, sehingga dengan memahami arti kesehatan diharapkan kita dapat memilah manakah yang benar-benar dibutuhkan bagi tubuh kita atau manakah yang hanya diinginkan tetapi sebenarnya tidak dibutuhkan oleh tubuh dan bahkan bisa cenderung berakibat negatif;
  2. Selalu bersyukur dan menikmati hidup, bersyukur atas semua yang telah diberikan oleh Yang Maha Kuasa dan nikmatilah hidup dengan segala dinamikanya;
  3. Selalu optimis, hadapilah segala sesuatu di depan kita dengan sikap penuh optimis sehingga mampu menciptakan keputusan yang terbaik.

Tetap semangat menghadapi masa pensiun, masa pensiun yang dijalani dengan semangat akan membawa efek positif bagi diri kita maupun orang-orang di sekitar kita. Agar kita memiliki makna bagi siapapun. (DK/WNT/FI)

TOP